Desember 20, 2008

Diskusi dan Peluncuran Buku "Stiker Kota"

Ruang Rupa, 20 Desember 2008.

Pertanyaan pertama yang muncul di benakku saat pertama kali melihat buku berjudul Stiker Kota itu adalah mengenai metodologi apa yang mereka gunakan untuk membicarakan stiker-stiker itu. Saya penasaran cara mereka membaca fenomena stiker kota. Perihal bagaimana caranya, saya ingin tahu. Tapi tiba-tiba saya terperanjat. Tulisan esai sekitar 35 halaman itu tidak menjawab penasaran saya. Tulisan itu lebih tampak sebagai paparan singkat, catatan kecil saat melihat meriahnya stiker-stiker kota itu. Mengenai perspektif apa yang digunakan, metode penelitian apa yang dipilih, fokus apa yang mau ditangkap, tidak saya temukan dalam tulisan tersebut.

Buku setebal 297 halaman itu ditulis oleh Ugeng T. Moetidjo, Ardi Yunanto, Ade Darmawan dan Mirwan Andan. Dalam peluncuran buku dan diskusi, diundang pula Hikmat Darmawan dan Bambang Sugiarto. Kalau dilihat dari isi buku, tiga puluh lima halaman pertama berisi tulisan, selebihnya berisi gambar stiker. Bagi pembaca, ini menarik. Jauh lebih menarik bagi mereka untuk mengamati stiker-stiker itu, baik dari sisi desain, juga tulisan yang tertera di dalamnya, lalu mencipta asumsi dari pengamatannya itu, daripada membaca ulasan dari para penulis.

Perlu diakui bahwa buku ini memang lahir dari data yang sangat kaya. Buku ini bisa dikatakan berhasil dari segi pengumpulan data. Stiker, dalam bentuk apapun, dikumpulkan dan di-scan, dicetak dan bisa jelas dilihat oleh pembaca.

Sayangnya, data yang demikian kaya itu disertai oleh pembacaan yang tidak memadai. Hal ini dipertegas oleh Bambang Sugiartio dalam diskusi. Alat atau pisau analisis apa yang digunakan untuk membicarakan stiker ini? Semiotika, psikoanalisis, cultural studies? Kaburnya isi tulisan yang disajikan dalam buku ini, sedikit banyak, mungkin, membuktikan bahwa para penulis belum melakukan pembacaan sebelumnya terhadap pendekatan-pendekatan yang akan digunakan. Akibatnya, tidak ada satupun pendekatan yang digunakan. Tulisan itu "nampak seperti tulisan feature atau jurnalistik," tambah Bambang.

Tidak adanya pendekatan yang digunakan berakibat miskinnya kategorisasi. Mengenai kategorisasi ini, dalam diskusi, Lisabona meminta penjelasan lebih detail dari para penulis. Kategorisasi, dalam buku itu, sudah dilakukan. Namun, kategorisasi yang dilakukan itu tidak bisa menjadi panduan yang signifikan untuk bercerita tentang stiker-stiker itu. Bentuk kategorisasi yang paling penting, tentu saja harus disadari oleh setiap peneliti, adalah kategorisasi yang lahir karena peneliti sudah berhasil memilih angle, fokus dan pendekatan yang akan dilakukan. Ulasan dalam buku ini belum bisa menampilkan kategorisasi jenis kedua itu.

bersambung ...

Desember 19, 2008

Ramai-Ramai Meramaikan Pasar

Tulisan ini memaparkan keberadaan galeri, art space dan balai lelang baru sepanjang 2008.

Trilogy Monster Logos, Pisang Seger, Ring Road Art, Papermoon, Simponi, GAS, Mulyakarya, Club Vivid Animamix, Performance Klub, Katalis Art Forum, dan Axcen Vigur pameran bersama di bawah tajuk Jogja Deathmach. Inilah pameran perdana Roomate, menghadirkan kelompok-kelompok seni rupa yang sebagian besar namanya mungkin masih asing di telinga para pencinta dan pengamat seni di Indonesia.

Roomate, bertempat di Suryodiningratan, Yogyakarta, salah satu ruang pamer baru yang muncul dalam 2008 ini. Konsep Roomate, dirancang oleh Sing Sing, pemilik Koong Gallery dan Rizki A. Zaelani, kurator. Salah satu keunikan Roomate, bisa menyelenggarakan pameran yang sekaligus mengetengahkan beberapa kurator dengan masing-masing senirupawannya. Ini dimungkinkan karena Roomate terdiri dari beberapa ruang pameran, rata-rata berukuran 4m X 4m. Ini membuka peluang buat senirupawan yang belum atau sulit mengumpulkan banyak karya untuk berpameran tunggal.

Kemunculan berbagai galeri dan art space pada 2008 ini agaknya merupakan respon pasar seni rupa terhadap “boom seni rupa” 2007. Dengan sebab berbeda, ramainya galeri baru di tahun ini mirip dengan ramainya tumbuh galeri baru di awal 1990-an menyusul “boom seni rupa” pada akhir 1980an. It terjadi antara lain di Ubud, Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta. Pada periode awal ini, awal 1990-an itu, galeri-galeri lebih memfokuskan diri pada penjualan karya, jarang yang mengadakan pameran tunggal seorang senirupawan. Bisa dikatakan sebagian besar galeri waktu itu mirip toko barang-barang seni.

Dalam perjalanan waktu beberapa galeri periode pertama itu tak melanjutkan usahanya alias ditutup di tengah jalan. Selain soal manajemen bisnis masing-masing galeri, kondisi ekonomi nasional tampaknya ikut menentukan bisnis galeri.

Pada 2007 dan berlanjut ke 2008, galeri yang sempat mati, dibuka kembali. Kolektor yang merasa memiliki lukisan “bagus,” mulai berani menggunakan uangnya untuk memulai bisnis galeri. Pertumbuhan ekonomi yang cepat mengakibatkan pula harga lukisan meningkat.


Ruang Pamer Alternatif

Di tengah ramainya galeri baru itu, di Yogya muncul ‘ruang pamer’ alternatif, didukung oleh tumbuh dan berkembangnya komunitas-komunitas seni ‘pinggiran.’ Apa pun namanya, mereka bergerak di berbagai bidang, tidak hanya seni lukis dan patung yang selama ini mendominasi dunia seni rupa Indonesia. Ruang pamer alternatif mengembangkan seni grafis, komik, instalasi, kriya, sablon, sticker, kaos, gambar mural, grafiti, seni pertunjukan, film, video, animasi dan benda-benda mainan.

Termasuk yang alternatif itu antara lain Langgeng Art Project, yang mengawali proyek seninya dengan tajuk Re-Form, awal Juni 2008. Berlokasi di Nitiprayan, konon ini desanya seniman Yogya, Langgeng Art Project merupakan sebuah eksperimen baru untuk mengelola hubungan galeri-seniman-kurator. “Di sini kami mau menciptakan sistem yang adil dan bermanfaat bagi semua,” ungkap Arahmaiani selaku kurator Langgeng Art Project.

Langgeng Art Project juga menawarkan usaha baru untuk meningkatkan konsep berkarya seniman. “Di sini seniman harus mempresentasikan karya yang dibuat, kemudian melalui perdebatan dan diskusi dengan kurator, pemilik galeri dan ahli lain.” Beberapa presentasi dan diskusi yang ditekankan disini bertujuan untuk meningkatkan kualitas karya. Karena itu proyek baru Langgeng menurut Arahmaiani, “Lebih menekankan pada proses ketimbang hasil.” Karena itu, demi meningkatkan bobot karya dan konsep berpikir seniman, sering pula didatangkan, misalnya aktivis-aktivis dari beberapa bidang agar seniman paham tentang berbagai masalah yang berkecamuk di masyarakat.

Di proyek ini bisnis dijalankan secara manajemen terbuka. “Penjualan karya dilakukan melalui kesepakatan pemilik galeri, Deddy, dan senimannya,” kata Arahmaiani. Deddy, pemilk Langgeng Galeri, ikut terlibat dalam berbagai acara diskusi dan menjelaskan sistem kerja Langgeng. Karena itu, Arahmaiani menyebut sistem ini kerja yang “transparan.”

Hadirnya Roomate dan Langgeng Art Project memperlihatkan kecenderungan untuk memperkuat “wacana” di balik sebuah karya seni. Karya seni dianggap makin tinggi nilainya jika ‘dimuati’ cerita dan konsep yang ‘cerdas.’ Secara tak langsung, dengan demikian usaha ini juga meng-upgrade senimannya.

Galeri baru di Yogya yang bukan alternatif namun jelas-jelas memilih karya seni rupa kontemporer adalah Tembi Contemporary Gallery di Desa Wisata Tembi,,Bantul. Galeri ini menempati sebuah bangunan yang selamat dari gempa 2006. Pendiri Tembi Contemporary adalah Warwick Purser, seorang usahawan dan pecinta seni.

Sebagai salah satu kota penting dalam perkembangan seni rupa, di Bandung tumbuh juga galeri yang tergolong “alternatif.” Kata Herra Pahlasari, pemilik sekaligus pengelola S14, nama galeri alternatif ini, ruang pamer galeri ini terbatas, hanya 3m X 3m. Itu sebabnya karya yang dipajang kebanyakan berukuran kecil. Bila karya instalasi yang dipamerkan, hanya bisa memasang satu karya. S14 merupakan galeri yang non-profit oriented. Di sini calon pembeli bisa langsung berurusan dengan senimannya. Namun, “Karena seniman tahu bahwa kami tidak profit oriented, mereka mempercayai kami untuk mengurus penjualan karyanya.”

Pengelolaan Galeri dan Kampung Seni

PADA umumnya galeri dan art space dikelola dan dimiliki oleh pribadi. SIGIarts, terletak di Jalan Mahakam, Jakarta Selatan, didirikan oleh Rachel Ibrahim, berada di bawah sebuah badan usaha. Diharapkan dengan demikian kegiatan galeri ini dikelola secara profesional, baik dalam hal manajemen maupun konsep keseniannya tidak tergantung pada perseorangan. Sebelum diresmikan Juli 2008 lalu, manajemen SIGI sudah merencanakan tema per tahun. Tahun 2008 ini misalnya, pameran-pameran akan bertemakan The Relations of Identities. Pada 2009, The Triviality of Truth, Revisiting Trust, and the Betrayal of Memory. Tahun-tahun berikutnya direncanakan tema yang lain. SIGI telah menentukan tema sampai 2012.

Pameran pertama SIGI berjudul Sincere Subjects, Juli 2008, termasuk dalam tema The Relations of Identities, mengetengahkan karya-karya Jose Legaspi, Lie Fhung, Melati Suryodarmo, dan Ugo Untoro.

Lain halnya dengan Galeri Untuk Rakyat dan Kampung Seni Lerep. Dengan semangat mendirikan galeri siap pakai tanpa prosedur njlimet, Jogya National Museum, Museum dan Tanah Liat, Katalis Art Forum & Yustoni Volunteero dari Taring Padi mendirikan Galeri Untuk Rakyat, akhir Mei 2008 di lokasi Jogja National Museum. Pameran perdana galeri ini mengetengahkan karya Sudandyo Widyo Aprilianto.

Galeri di lokasi Kampung Seni Lerep, Ungaran, Jawa Tengah, sejak awal tidak diharapkan untuk jadi sumber dana. Kampung Seni Lerep didirikan oleh Handoko, perintis dan pendiri Galeri Semarang. Galeri di Kampung Seni Lerep terdiri dari dua lantai. Lantai bawah digunakan sebagai ruang pamer karya lukisan. Sementara ini terpajang lukisan koleksi pribadi, antara lain karya Mangu Putra, Agus Darto, Yayat Surya, dan Awiki. Lantai dua difungsikan sebagai museum benda-benda keseharian yang kuno, misalnya kamera, kain batik, koran-koran lama, dan beberapa perabot rumah tangga.

Galeri Seni Rupa: Antara Seni, Budaya dan Masyarakat

Salah satu galeri yang memusatkan perhatiannya pada perkembangan seni dan budaya secara luas adalah Salihara. Galeri Salihara tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari Komunitas Salihara. Pameran pertama Galeri Salihara bertajuk “Dari Penjara Ke Pigura”, digagas oleh Asikin Hasan, Nirwan Dewanto, dan Sitok Srengenge antara lain. Sejumlah senirupawan diundang untuk merespons gagasan atau sosok para intekektual Indonesia di masa perjuangan kemerdekaan dan sebelumnya.

Galeri Salihara dirancang oleh Marco Kusumawijaya, seorang arsitek yang punya minat pada kesenian, ketua DKJ 2006-2009. Salah satu keunikan galeri ini, rancang bangunannya. Bentuk galeri melingkar, memberi kesan tak berujung dan memberi efek luas pada ruang pandang. Interior galeri yang melengkung ini membuat penonton lukisan bisa menonton dengan leluasa, tidak dibatasi siku dinding. Standar yang mutlak diperhatikan adalah sistem pencahayaan. “Tugas sebuah gedung galeri hanya memberikan suatu ruang yang optimal untuk memamerkan karya seni dengan sebaik-baiknya,” ungkap Marco. Karena itu, faktor cahaya dan pengudaraan sangat diperhatikan di sini. “Ruang dalam perlu diberi cahaya alami semaksimal mungkin,” tandasnya.


Galeri yang juga menampung gagasan seni-budaya luas adalah Galeri RURU. Galeri ini merupakan salah satu kegiatan Ruang Rupa, lembaga seni-budaya nirlaba yang berdiri pada 2000, didukung oleh, antara lain, HIVOS, RAIN dan Stichting DOEN. Ruang Rupa bergerak dalam bidang pengembangan seni rupa dalam konteks budaya urban, penelitian dan pameran, lalu membuka Galeri RURU pada Juni 2008 ini. Beberapa yang terlibat di sini, antara lain, Ade Darmawan, Julia Sarisetiati, Reza Afisina, Indra Ameng, Hafiz, Ugeng T. Moetidjo dan Ardi Yunanto. RURU Gallery dibuka dengan pameran tunggal Irwan Ahmett, seorang desainer grafis.



Memanfaatkan Situasi Boom 2007

Sementara itu galeri yang muncul di Jakarta pada 2008 dan fokus pada seni rupa antara lain Vivi Yip Art Room, milik pasangan Bre Redana dan Vivi Yip. Lalu Galeri Roemah Roepa, Phthalo Watercolour Gallery, galeri khusus lukisan cat air milik Agus Budiyanto, seorang pelukis cat air yang kini mengajar melukis. Kemudian, A2A, milik kolektor Hendro Kuntjoro yang dibuka dengan pameran bertajuk Daya Perempuan, Juni 2008, serta iskusi tentang infrastruktur seni rupa kontemporer. Di Yogya, ada Tujuh Bintang Art Space dengan Tubi Art Shop-nya, dibuka pada 17 Agustus 2008 dengan pameran bertajuk Indonesian Contemporary All Star 2008. Galeri ini berdiri di bawah naungan PT. Sinar Abadi Communication, milik Saptoadi Nugroho. Juga ada Coral Gallery yang fokusnya, selain seni rupa, juga desain interior dan furniture. Galeri ini dinaungi P.T. Watukali Capita Ciptama.


Selain itu, ada pula Kendra Gallery dan HeArt Space di Bali, Rowo Art Gallery di Medan. Selain galeri, tumbuh pula balai lelang Denindo, milik Denny Pangkey, seorang kolektor seni, dengan lelang perdana “Affordable Art Auction," Juni 2008, dan Balai Lelang Dobel L.

Tampaknya galeri-galeri dan rumah lelang tersebut harus mengatur strategi untuk menghadapi ‘krisis moneter, global yang terjadi beberapa bulan menjelang akhir tahun 2008 ini.’ Hal ini tentulah di luar dugaan para pengusaha, termasuk pengusaha galeri ketika mendirikan usahanya. Bagaimana mereka akan menyikapi krisis ini, adalah cerita yang lain. Juga masalah lain apakah kondisi yang menumbuhkan galeri juga bisa memarakkan lahirnya prasarana seni rupa yang lain: media, kritikus, kurator, exhibition organizer, konservator, sejarawan?

JAKARTA 32°C III 2008

Mahasiswa Mencatat (Ibu) Kota
Pameran Jakarta 32°C mengajak kita melihat alternatif senirupa galeri dan balai lelang. Menjual karya memang perlu, namun karya seni yang dinilai dari sisi hanya harga bakal menggersangkan kreativitas, mencerminkan jiwa yang kering, membatasi penjelajahan estetika. Pameran karya mahasiswa ini menunjukkan bahwa jalan lain itu ada dan mungkin.

Di hampir setiap sudut Kota Jakarta kita jumpai warung kaki lima pecel lele. Selain ikan lele, disediakan juga ayam, bebek, burung dara dan ikan mas. Untuk mempermudah pembeli mengenali warung berisi menu-menu itu, dipasang spanduk yang sekaligus berfungsi sebagai tirai pemisah antara warung dan sekitarnya, bergambar hewan dan ikan tersebut. Pameran seni rupa Jakarta 32°C di Galeri Nasional belum lama ini (berakhir 29 Agustus lalu) mengangkat desain spanduk warung pecel lele itu menjadi gambar pada undangan dan gambar sampul pada katalog. Desain itu menyiratkan, penyelenggara pameran ini, Ruang Rupa, mengajak mahasiswa Jakarta, peserta pameran, berbicara tentang masalah yang ada di “Kota Pecel Lele” ini, Jakarta Metropolitan.
Yang segera menyedot perhatian adalah karya-karya interaktif. Misalnya kotak interaktif karya Mellodramamagenta, sebuah kotak dilukisi toga dengan latar belakang rak buku berisi buku-buku tebal yang dijajarkan. Persis di bagian kepala toga, kotak ini berlubang. Pengunjung yang berminat bisa berpose memunculkan wajahnya di lubang itu dari dalam kotak. Bila difoto, jadinya adalah foto pengunjung tersebut seolah-olah selesai diwisuda lengkap dengan baju toganya. Apalagi di bagian bawah kotak tertulis: “Wisuda-Wisudaan Universitas-Universitasan 2008.”
Karya lain, milik Eko Bintang, Aku = Kamu ≠ Aku. Di atas deretan gambar lima wajah, pengunjung bisa menggambar atribut tertentu pada salah satu wajah itu dengan spidol, dipotret, kemudian coretan spidol itu dihapus lagi. Karya ini seperti memberi pemahaman baru bahwa “diri” adalah konstruksi, konsep yang dibentuk oleh diri sendiri (personal) dan oleh orang lain. Figur Box (karya Jeany Pebriwayani) mengajak orang menuliskan keinginan atau cita-citanya pada sebuah notepad kemudian ditempel di papan gabus yang disediakan.
Berbeda dari dua pameran sebelumnya, Jakarta 32°C 2008 ini menyodorkan tema khusus, yaitu Kota Jakarta. Melalui berbagai bentuk karya: drawing, instalasi interaktif, patung, fotografi, fashion, desain grafis, lukis, film, performance art dan video, mereka merespon situasi dan makna Kota Jakarta. Pameran menghadirkan 43 karya dari 36 mahasiswa, diikuti presentasi khusus dari AP. Bestari, Arief Rachman, Bujangan Urban, Eko Bintang, Heri Bertus “Sutreb,” Lily Adi Permana, Marendra Suryaningtyas “Artignore” dan Maulana “Adel” Pasha. Selain pameran, ada juga workshop, artist talk, pemutaran film, performance art dan pemberian penghargaan khusus bagi lima karya terbaik.
Kecenderungan paling kuat yang terlihat di hampir semua karya adalah semangat mahasiswa memvisualisasi ulang kehidupan sehari-hari yang terjadi di kota metropolitan Jakarta. Mereka bercerita, atau mengulang cerita, lewat karya visual. Absennya lagu anak yang biasa dinyanyikan oleh anak-anak diganti lagu-lagu pop dewasa (Lagu Anak karya I Gede Adhi JP), tayangan televisi sarat dengan berita kriminal (Bermain Bersama karya Hendry Ong), bahaya acara televisi bagi anak (Efek Televisi karya Muhamad Andi), trotoar dan jembatan penyeberangan yang alih fungsi menjadi tempat berdagang (Kios karya Hendra Bhakti), rekaman kerja pengusaha mainan anak Odong-Odong (Odong-Odong Hidupku karya Tressia Asella), nasib anak jalanan (Lost Boy karya Christine Franciska), penggunaan kerekan di rumah susun (Dari Lantai 3 karya Angga Cipta), antara lain yang dikemukakan mahasiswa peserta pameran.
Pameran ini membagi tema menjadi empat kategori: Identitas, Ruang, Sejarah dan Budaya Massa. Pada kenyataannya, pembedaan kategori itu samar, belum dirumuskan secara ketat, atau sesungguhnya batas antara tema yang satu dengan yang lain pada kenyataannya memang samar. Konsep di balik karya All You Need is Laugh (karya Kemala Putri) adalah senyum sejenak untuk melupakan keresahan, berharap agar orang yang menonton ikut tersenyum. Bisa jadi senyum itu merupakan ajakan untuk menikmati ketiadaan ruang di kota sepadat Jakarta. Dalam Tatapan Pengharapan (karya Matahari Mahardhika), pencipta karya ini mengajak kita untuk menemukan harapan untuk hidup yang lebih baik; atau, justru karya itu mencerminkan ketiadaan harapan?
Di bawah kategori Identitas, ada kecenderungan peserta pameran memahami identitas sebagai yang tampak saja, artifisial. Trckr Cp vs Blngkn (Ario Kiswinar) mengusung konsep global vs lokal dengan menyandingkan foto orang bertopi dan ber-blangkon. Perdebatan identitas di bawah istilah global dan lokal kurang dikaji lebih mendalam. Demikian juga dalam “Petjes” Identitas Hidupku, peci dilekatkan begitu saja sebagai simbol identitas manusia Indonesia. Deretan foto tokoh-tokoh masyarakat, politikus, polisi, seniman, pejabat, dan segala jenis profesi mengenakan peci seakan menyiratkan adanya keragaman budaya. Karya ini mungkin bisa dibaca sebagai pengingat bahwa masyarakat Indonesia yang kaya tradisi hidup berdampingan bersama di bawah satu simbol: peci.
Kategori lain adalah Ruang. Masalah ruang Kota Jakarta divisualisasikan oleh Godit melalui Bermain dan 24 Jam. Foto anak-anak berderet berlatar belakang tembok gedung yang penuh grafiti. Beberapa pemuda berwajah ceria nongkrong di depan Circle K (24 Jam). Keduanya adalah karya fotografi yang jelas memperlihatkan ketiadaan ruang dalam pengertian fisik.
Kategori Sejarah adalah kategori yang paling sepi dieksplorasi. Hanya ada dua karya dari jenis ini, yaitu Beatlemania (1962-2008) karya Suneo dan Benjamin S.: Muke Gile …! Karya Tigersprong 3. Di sini sejarah dipahami sebatas hal yang berkaitan dengan masa lalu, agaknya.
Kategori terakhir adalah Budaya Massa. Setelah Identitas, Budaya Massa adalah kategori yang banyak mendapat respon dari peserta. Tidak sulit memahami karya mereka. Anastasia Cyntia mengritik film-film bernuansa agama (Pildacil, patung tangan yang memegang tasbih), Dini Ariani menyoroti budaya gosip di masyarakat (Bla … Bla … Bla … , tiga mulut menganga dengan gigi-gigi berwajah manusia), Muhamad Andi menceritakan bahaya siaran televisi bagi anak (Efek televisi, karya cetak digital tiga anak duduk di sofa, dijatuhi sinar putih oleh raksasa manusia berwajah televisi, bergigi gergaji) dan Kalvin Aditya memaparkan fenomen yang muncul di televisi Indonesia sekitar 2000an, yaitu keranjingan orang menjadi artis dadakan (Idola Baru Indonesia).
Secara keseluruhan, pameran ini menunjukkan kurangnya daya imajinasi dalam menceritakan hal-hal tentang Ibukota Jakarta yang sudah menjadi milik masyarakat. Karya-karya lebih-kurang hanya memvisualisasi-ulang hal-hal yang sudah sering kita lihat, dengar dan raba di Jakarta. Dengan kata lain, masalah Jakarta belum menjadi milik pribadi penciptanya (para mahasiswa itu) melainkan merupakan pengulangan ungkapan umum. Karya-karya mereka belum menjadi “seni alternatif di ruang publik.”
Lihat misalnya dalam video Lubang (Ray Sangga Kusuma), mengungkap ketidaknyamanan karena banyaknya jalan berlubang di Jakarta. Karya lainnya, video Ampas (Renal Rinoza Kasturi) memperlihatkan salah satu akibat limbah, yaitu sungai tidak lagi jernih, video Lari! (Deni Septiyanto) mengisahkan orang yang berlari untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di Jakarta. Karya-karya itu nampak sebagai sebuah laporan peristiwa.
Di penutupan acara pada 29 Agustus 2008, diumumkan lima karya paling menarik. Walaupun sulit, dewan juri yang terdiri dari Indra Ameng, Ade Darmawan, Hafiz, Lisabona, Irwan Ahmett dan Restu Ratnaningtyas akhirnya memilih lima karya. Di antara empat puluh karya yang menurut istilah Lisabona masih “sopan-sopan,” ini, disaring menjadi sepuluh, kemudian disaring lagi menjadi lima. Pemenang berhak mengikuti tur ke Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Lima karya itu adalah Tambalan (Syahrul Amami) sebuah video yang mengisahkan orang yang mengecat lubang jalan untuk memberi tanda ‘hati-hati’ kepada pengendara, “Petjes” Identitas Hidupku (Daniel R. K. Kampua) kumpulan foto yang memperlihatkan orang-orang dari berbagai jabatan, pekerjaan dan tingkat penghasilan mengenakan peci. Magrudergrind (Gilang Merdeka)……….. Benjamin: Muke Gile …! (Tigersprong 3), dokumenter dengan visualisasi cukup menarik tentang kehidupan Benjamin, sosok seniman legendaris Indonesia. Yang kelima, Resign System (Carterpaper). Karya ini sudah dipasang di daerah Parung dan Matraman. Walaupun belum bisa mempengaruhi kebijakan sistem tanda resmi di jalan, namun ini cukup menarik karena mengimajinasikan sistem tanda baru untuk dipasang di ruang publik, misalnya “Tempat Prostitusi,” (di jalan raya Parung – depok), “Boleh Pacaran,” (di jalan Taman Matraman Timur), dan tempat-tempat lain.
Melalui Jakarta 32°C, kesadaran akan pentingnya seni di ruang publik mulai tumbuh. Kota mestinya memang tidak hanya hutan beton dan rambu-rambu lalu lintas, juga karya-karya seni yang bisa menjadi “pegangan” agar manusia tidak larut dalam hiruk-pikuk yang tak manusiawi. Lahirnya komunitas-komunitas seni yang berkonsentrasi pada permasalahan kota, seperti Sakit Kuning Collectivo, Propagraphic Movement, Bujangan Urban, SERRUM, dan sebagainya merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan acara ini. Komunitas-komunitas tersebut menjadi pemicu gerakan mahasiswa kampus.
Acara ini mengajak penonton memiliki dimensi lain dari seni rupa yang belakangan ini identik dengan galeri dan balai lelang. Komersialisasi seni pada akhirnya membuat karya seni “hilang” dari publik, menjadi simpanan para kolektor. Pameran ini justru menyuguhkan karya yang tidak untuk dipajang dan dikoleksi, namun bisa dinikmati dan ‘diajak bercerita.’ Hal-hal seperti gaya hidup, harapan, kekecewaan, strategi penyelesaian masalah, kompensasi, represi dan kecemasan orang kota bisa tergambar lebih jelas dalam eksplorasi yang lebih jeli. Paling tidak, melalui acara ini, mudah-mudahan mahasiswa menjadi lebih peka terhadap berbagai masalah di lingkungannya, dan mampu mengangkat masalah-masalah keseharian itu menjadi sebentuk karya seni. Kalau belum ada yang bisa dibilang habis-habisan menggarap ide, dan memunculkan karya yang mengejutkan, mungkin hanya soal waktu.

untuk durga


Desember 16, 2008

Rasan-Rasan, Komik Surya Wirawan

Seorang tukang becak duduk di sebuah warung. Matanya menerawang, tangan dan kakinya dilipat, dinaikkan di atas kursi panjang. Di sebelahnya, becak bertuliskan "Sumber Urip" diparkir di bawah hujan. Selain beberapa makanan ringan, di meja tersaji dua gelas minuman, yang satunya masih utuh, ditutup, satunya sudah diminum, milik orang lain yang singgah di warung itu. Judulnya Sejak Pagi Hujan Tak Reda. Inilah salah satu karya Suryawirawan. Ciri khas masyarakat dan suasana kesehariannya sangat kental. Si bapak dalam karya itu nampak melamun, mungkin resah, menanti hujan yang tak kunjung reda, sementara ia harus bekerja mengayuh becaknya.

Karya lain, Rambu Terakhir (2004), menyuguhkan satu ungkapan masyarakat khas Jawa, khususnya Yogya. "Ngebut, sikat ndase" (ngebut, pukul kepalanya), adalah kata-kata yang biasa terlihat di jalan-jalan kampung, gang-gang kecil, dan pemukiman padat. Suryawirawan seperti memotret keseharian, baik situasi lingkungannya maupun aktivitas orang-orangnya.

Dalam pameran tunggalnya di Kedai Kebun Forum, 5 Desember sampai dengan 31 Desember 2008, ia menampilkan karya-karya yang dikerjakan mulai 2000 sampai yang terbaru. Karya-karyanya banyak dipengaruhi oleh Taring Padi, sebuah lembaga kerakyatan yang ikut dirintisnya sejak 1999. Dengan teknik etsa, cukil kayu, linocut, drawing, dan cat air, Suryawirawan alias Yoyok menyajikan protes sosialnya. ...

Melalui seri komiknya dengan tokoh utama Petruk dan Gareng, ia menceritakan apa-apa yang dialami masyarakat Yogyakarta. Lihat misalnya dalam komik kategori "rasan-rasan" seperti Sumur Butuh Banyu. Dalam Sumur Butuh Banyu, fenomen 'sogokan' dalam penerimaan pegawai negeri itu diceritakan dengan idiom khas. Petruk yang sudah lulus seleksi pegawai negeri tetap tidak bisa bekerja. Ini menimbulkan pertanyaan Gareng. "Kurang ngene iki: wong arep golek sumur kok dikon nggowo banyu ..." jawab Petruk menanggapi pertanyaan Gareng. Dari sana Gareng bisa memahami, "Ooo ... kurang sogokan." Contoh lain bisa dilihat dalam Lampu. Gareng dan Petruk naik motor, berhenti tepat ketika lampu baru menyala merah. Dari belakang motor mereka ditabrak orang. "Asem ki, wis mandek isih ditabrak," demikian maki Petruk yang sudah menaati lampu lalu lintas, tapi ditabrak dari belakang oleh orang yang terbiasa untuk ngebut sesaat setelah lampu berganti merah.

Anti Suap ...

Istilah-istilah semacam "Asem ki," "sikat ndase,"dipisui polisi, ban digembos," "... kental menunjukkan identitas kedaerahan.

Karya-karya seri komik Yoyok lebih kuat karakternya daripada karya-karya poster Taring Padi-nya. Melalui seri komik Rasan-Rasan, Yoyok memiliki cara khas dalam menyampaikan pesan, protes dan pernyataan sikapnya. Ia memperingatkan orang akan penindasan, korupsi dan menyatakan sikap penolakannya terhadap perdagagan senjata, dan sebagainya tidak lagi melalui karya bergaya poster Taring Padi, melainkan dalam bentuk yang beda: komik Petruk -Gareng. Pernyataan-pernyataan sikap melalui komik Petruk-Gareng lebih memiliki daya tarik bagi masyarakat.

Dalam hal ini, kekuatan Yoyok, selain berkaitan dengan teknik, garis, bentuk, detil, suasana (konteks) latar belakang, ... juga narasi sosial, cara bercerita yang memberikan suasana intim bagi pembaca, terutama pembaca yang akrab dengan budaya Jawa Tengah. Istilah-istilah yang digunakan, bentuk rumah, kendaraan, gaya hidup, dan sebagainya menghadirkan dengan jelas jenis-jenis persoalan yang dialami masyarakat.

Bungkusan Hati di Dalam Kulkas




Wayang Eko Nugroho




Rancang wayang dan imaji visual: Eko Nugroho

Dalang: Ki Catur Kuncoro
Sinden: Soimah Poncowati

Ide cerita dan naskah: Joned Suryatmoko

Desain panggung: Andy Seno Aji

Penata musik: Yenu Ariendra



Ceritanya sederhana. Alurnya tidak begitu rumit. Tujuh tokoh dalam wayang-wayang Eko bermain dalam lakon cinta segi tiga. Kelanjutan ceritanya tak sulit ditebak. Uniknya, mungkin, atau juga sebenarnya sudah biasa, ada kasus mutilasi yang menyertai kisah cinta tersebut, juga isu homoseksualitas, walau tak banyak memegang peran dalam keseluruhan cerita. Namun sayangnya, tema mutilasi tidak digarap tuntas. Kalau saja ada studi khusus tentang alasan-alasan apa saja yang membuat orang bisa melakukan mutilasi, mungkin lebih menarik.

Alasan Cah Bagus memutilasi isterinya, Cah Ayu, tidak memiliki alasan yang bisa dipaparkan jelas. Mutilasi diceritakan terjadi karena rasa cemburu. Cah Bagus cemburu karena Cah Ayu jatuh cinta dengan laki-laki lain, yang bahkan, makan dan kebutuhannya dibiayai oleh Cah Ayu lewat uang suaminya. Perlu dicatat ini tradisi masyarakat Indonesia, seorang perempuan dianggap tidak wajar jika membiayai hidup laki-laki.

Ada dua hal yang perlu dipertimbangkan untuk membuat pertunjukan semacam wayang Eko ini menarik, yaitu visualisasi dan narasi. Dalam hal narasi, pertunjukan wayang Eko Nugroho bisa dikatakan lemah. Narasi tidak digarap indah dan penuh kejutan. Cerita yang disajikan terlalu banal, sehari-hari dan mudah ditebak. Kalau dipadu dengan wayang-wayang Eko yang tampilannya “sangat tidak biasa” itu, timpang. Dengan tokoh-tokoh wayang yang diciptakan Eko, seharusnya cerita bisa digarap lebih dalam, lebih memikat. Pendek kata, naskah dan ide cerita dalam tontonan ini tidak layak untuk disandingkan dengan tokoh-tokoh wayang Eko yang begitu imajinatif dan sedikit bernuansa surealis.

Penonton tidak diberi sesuatu yang misterius untuk menahan mereka beranjak. Akhir ceritanya tak sulit diduga. Pendek kata, penceritaannya terlalu umum dan biasa. Kalau saja, misalnya, sutradara merahasiakan alasan Cah Bagus untuk tidak memiliki anak dari Cah Ayu, selain “… setelah lima tahun perkawinan” seperti dikatakan Cah Bagus, tentu saja ini lebih membuat penonton sulit menduga, sehingga mereka memiliki hasrat untuk menyelesaikan cerita dan menemukan alasan itu.


Tontonan ini bisa dikatakan menarik karena visualisasi yang berhasil diciptakan dalam berbagai adegannya. Warna, bentuk, gambar, posisi, dan sebagainya berhasil memikat penonton. Tiga layar yang menghadap penonton menyajikan lakon berbeda, tapi tersambung. Penonton tahu bahwa layar paling kanan yang menghadap mereka adalah sejenis 'ilustrasi' kisah yang sedang ditampilkan. Layar tengah dan kiri menceritakan kisah-kisahnya. Uniknya, layar paling kanan itu memberi ilustrasi yang tidak 'basi.' Sebagai contoh, ilustrasi atas adegan mutilasi yang dilakukan Cah Bagus terhadap isterinya ditampilkan dengan bulatan merah yang permukaannya seperti teriris dengan aliran air. Tidak langsung, tidak harafiah, namun terpahami.




Desember 05, 2008

sekilas tentang pameran tunggal komik Surya Wirawan

"Militerisme Selamanya Ganas dan Primitif," "Kami Menolak Jadi Korban," antara lain contoh dari empat karya yang tergabung dalam Kartu Pos (2003). Karya yang dikerjakan dengan teknik cukil kayu ini bernada seperti propaganda, salah satu ciri khas LBK Taring Padi. Surya Wirawan, akrab dipanggil Yoyok, bergabung dengan Taring Padi sejak 1999. Keterkaitannya dengan Taring Padi ini melahirkan karya-karya bermuatan kritik sosial. Yang terkesan kuat dalam komik-komik dan karya grafis Surya Wirawan adalah narasi sosial dan penggunaan idiom yang berkaitan dengan keseharian masyarakat Yogyakarta. Antara lain istilah "Ngebut sikat ndase" (semacam ngebut, benjut, dipukul kepalanya), dalam Rambu Terakhir (2004), ...