Mei 09, 2013
esai pameran Figuring Text-Texting Figure
Mei 02, 2012
The Monument of Nashar
Nashar (1928-1994), a distinguished Indonesian painter, has been overlooked amid burgeoning contemporary Indonesian art. Ideally, there should be an Indonesian modern art museum to display artworks created by Indonesian artists, especially those who contributed to Indonesian art history.
Without such a museum, small wonder Nashar's works were forgotten. In this view, Elegy in Art - On Nashar and His Paintings has this particular value, whatever its publishing background. The book is a "portable museum", with commentary about the artist and his works.
Today, Nashar's price appears to be higher in some auction houses, for example
Nashar, born in Parimanan,
Goenawan Mohamad, one of the writers, commented on Nashar's painting as "austere and candid, simple without any redecoration." Similar style could also be found in his abstract works: "na*ve" shapes and natural colours, without any pretention to decorate.
Ajip Rosidi, one of
Nashar was also a writer. He wrote about anything that was relevant to art and life. His writings took form as a journal, or a letter to someone - whom he always addressed as kawan (buddy).
This anthology dedicated to Oey Emmy Christina (the late wife of collector Hendro Tan) is edited by Agus Dermawan T., an Indonesian arts writer. Agus Dermawan selected 12 articles by 12 writers from 130 articles about Nashar, which he collected from various newspapers, magazines, and Nashar's exhibition catalogues.
The articles were then categorized into three chapters. First chapter presents articles from Popo Iskandar, Goenawan Mohamad, Putu Wijaya, Maruli Tobing and the late Ray Rizal. Their writings enlightened readers about Nashar's place in the history of Indonesian modern art.
In the next chapter, Bambang Bujono, late Baharuddin M. S., late Sudarmaji dan Efix Mulyadi, specifically reviewed Nashar's artworks. All these reviews were published between 1973 and 1991. The editor claimed the chapter described Nashar's existence as an artist and the development of his paintings over time.
The last chapter presents notes from Nashar's close friends. Ajip Rosidi, Moeljanto D. S., and the editor, Agus Dermawan.
They write more personally about the artist who dedicated his whole life to painting. The three articles were published in the same year, 1994, the year of Nashar's death.
Ajip Rosidi provided the most comprehensive account of Nashar's life: a very determined person. Forbidden by his parents to paint, he in fact left everything he had only for one thing: painting. When Sudjojono, the "father" of Indonesian modern art, claimed Nashar didn't have any talent, Nashar kept painting. He didn't care about what people said. How could he? According to Putu Wijaya, a theater activist, Nashar said, if Sudjojono's claim was right, what he had to do was to break the boundaries between "talented" and "not talented."
Something that would make the book even more complete is other writings from the present. Now Indonesian art encompasses more than merely paintings and sculptures and graphic arts, but also installation arts, new media arts, video arts, and many others. In short, a freshly written piece considering the latest art approach to Nashar is needed.
The Nashar we find in this book is Nashar as a memorial monument. A Nashar that lives merely as a memory, not the Nashar whose paintings are still featured in several exhibitions and several auction houses.
However, this impressive-looking book, with hardcover-binding, full-colour pages and decorated with writings from famous names the likes of Goenawan Mohamad, Ajip Rosidi, and Putu Wijaya, offers no novelty.
It feels like it was published years ago. In this book, analysis and discourse about Nashar in the middle of postmodernism art is absent. It would feel different if the book was dated, say, in 1995.
Elegi Artistik Tentang Nashar dan Lukisan-Lukisannya (Bilingual)
Agus Dermawan T. (editor)
Indonesian Fine Art Lovers Association (ASPI), 2009
330 pages
Agathos, The Invisible Gwen
Ketika Garis Bicara
September 23, 2011
Widayat (1919-2002)
Mencari “Yang Lampau”
Suatu kali, Widayat pernah berkata, “Karya seni lukis harus mengandung ‘Chi’ menurut Fadjar Sidik atau ‘Taksu’ menurut Suteja Neka. Ia (lukisan) harus berisi.” Pernyataan itu mungkin terdengar “kurang pas” ketika ia juga mengajukan pandangannya bahwa “Lukisan itu berfungsi sebagai benda hias, untuk digantung di dinding rumah, di kantor, di galeri seni, di museum, dan lainnya.” Bagaimana Widayat menghadirkan ‘Chi,’ ‘Taksu,’ semacam “kekuatan yang tidak kelihatan” itu dalam lukisan yang – dari kata-kata Widayat – terkesan sekadar “penghias dinding?”
Widayat adalah pelukis yang digolongkan sebagai pelukis bergaya dekoratif, sebuah kecenderungan yang muncul pada 1960-an, bersamaan dengan maraknya seni abstrak. Selain Abas Alibasyah dan Bagong Kussudiardjo, di Yogyakarta, Widayat (sejak 1955) adalah salah satu dari pelopor perkembangan seni dekoratif ini. Namun gaya dekoratif yang hadir dalam karya Widayat berbeda dengan pendahulunya, Kartono Yudhokusumo, Hendra Gunawan, dan Batara Lubis.
Ia bergerak lebih jauh dari – misalnya, Kartono Yudhokusumo, salah satu gurunya, yang masih melakukan penggayaan (stilisasi) terhadap obyek tertentu (penggambaran obyek dengan cara diperindah), penekanan pada garis-garis ritmis dan warna-warna menarik. Sebaliknya, Widayat mengambil garis yang terkesan ‘patah-patah,’ ‘mengganggu,’ ‘merusak’ garis ‘manis’ tertata ala pelukis dekoratif. Ia tak hanya melakukan stilisasi pada obyek, melainkan pada elemen rupanya (garis, warna). Lihat saja, misalnya pada Adam dan Hawa (1980). Seluruh bidang gambar serta obyeknya pun dirangkai dari susunan tak beraturan bermacam bentuk, diblok dengan warna putih yang tak lagi murni: putih krem kecokelatan. Adam dan Hawa, sosoknya, diletakkan di tengah dan diberi semacam ‘bingkai’ hitam sebagai penanda bahwa itu sosok yang dijadikan fokus – tanpa perwajahan yang pasti. Demikian juga Adam dan Hawa (1990) yang didampingi dengan gambar hewan dan tumbuhan berwarna-warni, serta bentuk-bentuk lain. Pengulangan bentuk dan warna ini agaknya tidak hanya memperkuat kesan dekoratif, melainkan juga kesan ‘lampau’ pada lukisan Widayat. Susunan ritmis tak beraturan dan patah-patah itu menjadi semacam “bahasa” khas bagi karya-karya Widayat.
Dengan tekstur serupa patahan dan warna-warna lapuk itu, garis-garis Widayat pun tampak ekspresif, demikian pula dengan figur manusianya. Figur dan perwajahan dalam lukisan Widayat bercorak dua dimensi oleh karena distorsi. Kontes Kecantikan (1982), misalnya. Jejeran figur perempuan telanjang digambarkan secara berulang – ritmis – dengan wajah yang tak terbedakan. Mereka seperti susunan tumpang tindih, bergerombol. Dengan tekstur retak pada seluruh tubuh dan bidang gambar, figur-figur dua dimensi itu tampak seperti coretan pada dinding gua. Mereka serupa fosil. Di sana, kesan usang, lapuk, rusak, hadir. Begitu pula pada Wajah-Wajah Pelukis Asean (1986) yang seluruh bidang gambarnya tampak seperti pecahan dinding-dinding yang renta.
Corak atau gaya “primitif” yang tak dikenali secara khusus itu mengisi hampir seluruh karyanya. Suasana primitif dimunculkan melalui warna-warna gelap, warna-warna ‘rusak’ (lapuk), tekstur dan bentuk yang nampak seperti bongkahan tanah, pecahan, patahan, atau retakan batu, semacam arca kuno, atau batu berlumut, dan sejenisnya. Lihat, antara lain Dua Manusia Pertama (1980), Patung-Patung Primitif (1988), Burung-Burung Hutan (1984), dan foto dirinya, Widayat Sedang Melukis (1990).
Semua bentuk itu agaknya mampu membawa siapa pun pada suasana hutan dan kehidupan desa-desa kecil di sekitarnya. Suasana itu berhasil direkam dan dihadirkan Widayat karena keakrabannya dengan hutan belantara, batu-batu gunung, pohon-pohon raksasa, akar-akar tanaman yang menjulur, bongkahan-bongkahan tanah, bebatuan yang lapuk, lumut di hutan tropis, ketinggian tanah, permukaan jurang, suara binatang-binatang liar di hutan, kicauan burung, sungai, gemuruh suara air terjun, dan sejenisnya. Memang, dalam berkarya, Widayat banyak dipengaruhi oleh pengalamannya terutama sebagai pekerja juru ukur di perkebunan karet di Palembang, Sumatera Selatan, dan juru gambar peta rel kereta api Palembang, serta pengalaman belajar di Jepang bidang seni keramik, ikebana, pertamanan, dan grafis.
Selain lukisan cat minyaknya yang didominasi warna “tanah” dan terkesan “kelam” dan “lapuk,” Widayat juga melukis dengan akrilik, tinta, dan cat air. Lukisan-lukisan akriliknya memiliki nada warna yang berbeda. Warna tampak jauh lebih cerah, dan ritme bentuk dan garis amat nyata. Lihat, misalnya Taman Burung (1992) dan Rekayasa Hutan Kera (1992). Dan sekilas, di sana tampak warna dan komposisi ala Joan Miró.
Maka, dekoratif bagi Widayat juga berarti permasalahan menangkap “suara” hutan itu – menghadirkan kekuatan hutan yang menurutnya ‘magis,’ primitif. Dalam konteks Widayat, magis itu adalah “yang lampau,” “yang primitif,” “yang awal,” asal mula: bumi, tanah, kehidupan.” Maka, lewat warna-warna khas “lapuk”nya, motif-motif seperti topeng Irian atau Kalimantan (Topeng-Topeng Primitif (1990), Dua Manusia Pertama (1980), Jagad Ikan (1988)), kegelapan hutan seperti hutan Sumatera, Jawa dan Kalimantan (Burung-Burung Hutan (1984), Burung dalam Biru (1988), Beringin di Tebing (1991), Gunung Sumbing (1993)), hadirlah yang “lampau” itu.
-sty-
