April 14, 2011

Keragaman Seruang

Reni Lampir, Johan Nes, Beni Rismanto., Harya Pujantara, Ani Khaliq’fah, Ecky Kartawitanto, Bodhas Ludira Yudha, Andha Pujantara, M. Usaffa. Nama-nama itu – kalau kita mengamati dunia seni rupa belakangan ini - bukan lah nama-nama yang sering muncul dalam berbagai pameran maupun ulasan seni rupa. Singkat kata, deretan nama tersebut mungkin memang bukan kategori yang ikut meramaikan “booming” seni rupa 2007-2009 lalu. Kali ini mereka, yang tergabung dalam Kelompok Seruang, berpameran bersama di Galeri Biasa, Jl. Suryodiningratan 10B, Yogyakarta, bertajuk Pada Suatu Ketika, 24 Maret – 30 Maret 2011. Judul pameran “Pada Suatu Ketika” itu sekilas terkesan sangat umum. “Pada Suatu Ketika” mengingatkan kita pada pelajaran mengarang. Kalimat itu seperti pembuka cerita kita. Isi cerita selanjutnya setelah kalimat itu tentu terserah si pengarang. Pendek kata, “Pada Suatu Ketika,” agaknya, mengesankan bahwa pameran ini membebaskan para pesertanya berekspresi dengan tema dan medium karya. Mungkin itu sebabnya sehingga tak nampak “isu” seragam yang direspon oleh mereka. Ada drawing-drawing Ani yang menampilkan figur manusia kurus, berkaki panjang, tanpa wajah detail, patung kayu surealis corong piringan hitam karya Ecky Kartawitanto (Mulutmu Bau, 2011). Ujung corongnya berbentuk mulut terbuka lebar, gigi-giginya kelihatan – sembari piringan hitam itu melaju lempengan bak piringan hitam, diputar di bagian belakang mulut yang menganga itu. Ada juga karya akrilik di atas batik oleh Beni yang ikon dominannya perempuan. Paradise (2010), misalnya, close-up wajah perempuan, menyamping, seperti tergeletak, dan ada tetesan cairan. Sekilas, tampilannya seperti poster. Di bagian lain, ada kepala bayi menyembul di lubang WC laki-laki. Kepala dan jari-jari bayi itu muncul, sisa tubuhnya seakan tenggelam di cairan WC. Sebagian cairannya tumpah, mengalir ke luar. WC merah berisi bayi itu adalah karya instalasi dari Harya Pujantara, Wasted (2011). Kisah mengenai benih yang terbuang begitu saja kah? Atau mengenai bayi yang tak jadi lahir karena faktor tertentu? Aborsi? Atau bayi yang dibuang, disia-siakan orang tuanya? Ada juga toilet duduk yang seluruh permukaannya dilapisi potongan kertas-kertas bekas bernuansa warna pastel. Bak patung (sculpture), toilet itu diletakkan di atas landasan yang dilapisi kain. Karya itu berjudul Saving for Nothing Yet (2011), karya M. Usaffa. Karya lukis ditampilkan oleh Reni Lampir dan Johan Nes. Sementara Rina menggunakan akrilik dan oil pastel untuk menampilkan imaji-imaji naif dan coretan serupa gambar anak-anak, dengan kekhasan warna dan sapuan kuasnya (Shiroi Kiku No Hana, 2011), Johan Nes, dengan ikon siputnya, mencoba berbicara mengenai situasi sosial. Dengan tampilan seperti komik anak-anak, Biar Lambat Bisa Kiamat (2011), seekor siput yang kakinya Bulldozer, sedang menuju sawah bak sedang memperlebar area pembangunan. Nampak Johan Nes sedang bercerita mengenai penggusuran yang perlahan namun pasti terjadi: sawah-sawah hijau diganti pemukiman, gedung-gedung tua diganti dengan pencakar langit. Baik tema maupun pilihan ikon untuk menyampaikan pesan tidaklah baru, atau mengalami eksplorasi yang bisa dikatakan ‘gila-gilaan. Namun, salah satu yang menarik di sini adalah perihal keragaman medium. Pendek kata, di balik tema pameran yang tak spesifik, ekspresi bebas muncul, yaitu dalam bentuk keragaman bentuk dan penyampaian (bahan dan teknik), tidak secara khusus dalam konsep karya. Maka, andaikata tujuan pameran ini memang membebaskan ekspresi peserta, agaknya pameran ini telah memenuhi ‘syarat’ itu. Karya-karya dalam pameran ini terlihat beragam, tak nampak adanya fokus isu yang dengan serius digarap oleh masing-masing perupa.

Jogja Mendem

Keriuhan kota Jogja yang dikatakan sebagai kota seni-budaya bisa dirunut mulai dari berlangsungnya acara tahunan, Festival Kesenian Yogyakarta XXI, Juni 2009 yang mengangkat tema "Golong Gilig: Seni dan Budaya Berawal dari Keluarga," menyusul pesta besar 25 tahun ISI, Exposigns. Setelah itu, Biennale Jogja X, dan akan disusul dengan Biennale Anak I yang akan diadakan pertengahan Januari 2010. Melalui perhelatan besar yang berurutan semacam itu, ada kesan bahwa seniman Jogja sedang berpesta. Jogja mendem, mabuk karena kegairahan seniman untuk berkarya. Mereka seperti sedang “memuntahkan” apa-apa yang selama ini ada dalam benaknya. Ide, semangat berkarya, dan kreatifitas tumpah ruah. Ini terutama bisa dilihat dalam Pameran Besar Seni Visual Indonesia: Exposigns, pameran dalam rangka 25 tahun ISI yang diikuti sekitar 550 mahasiswa dan alumni ISI Yogyakarta, menghadirkan sekitar 600 karya dengan berbagai media. Sebenarnya pameran besar itu bertujuan merepresentasikan potensi mahasiswa dan alumni ISI Yogyakarta, namun sayangnya kurang terkurasi dan terorganisasi dengan baik. Walaupun demikian, perhelatan besar-besaran dalam rangka 25 tahun ISI tersebut tidak menjadi batu sandungan bagi berlangsungnya pesta seni-pesta seni lainnya. Yang sekarang sedang berlangsung adalah pesta seni dua tahunan, Biennale. Berbeda dengan Neo Nation, biennale ke-IX dua tahun lalu, kali ini biennale X dengan tema Jogja Jamming terkesan lebih ramai. Dan kenyataannya, memang begitu. Peserta dan pengunjung terlihat lebih antusias dan padat. Apalagi dengan hadirnya tempat pameran di outdoor (ruang publik kota) dan media karya yang makin beragam. Tak pelak lagi, pendatang yang sedang berlibur ke Jogja pun bisa ikut menikmati keramaian ini. Dengan mengangkat tema Jogja Jamming: Gerakan Arsip Seni Rupa Jogja, biennale Jogja X kali ini mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa pengarsipan negeri ini lemah, dan tugas mereka untuk membangkitkannya kembali. Mereka diajak untuk memiliki kesadaran berarsip. Ajakan ini, walau tidak dirumuskan sekonkret biennale X, sebenarnya sudah nampak dari keberadaan pameran-pameran lain sebelum biennale, walau pendekatannya sangat berbeda dari biennale ini. Dan fokus pada arsip seni rupa ini, selanjutnya akan diangkat dalam Biennale Anak I: “Dokumenku.” Di sana mereka (anak-anak) dituntun untuk berkarya berdasar lingkungan sekitar. Maka arsip dalam hal ini memang ditujukan sebagai media penyadaran dan pendidikan sejak dini. Arsip: Upgrade Wacana Seni Rupa Kesadaran akan arsip ini sudah mulai menimpa medan seni rupa Indonesia beberapa tahun terakhir, mengikuti maraknya pasar seni rupa. Kalau arsip seni rupa dikaitkan dengan catatan dan dokumentasi mengenai kekaryaan seni rupa dan senimannya, sudah bermunculan cukup banyak buku mengenai seniman dan kekaryaannya, antara lain, The Sound of Silence and Colors of the Wind Between the Tip of a Cigarette and Fire of the Lighter (2008) mengenai hidup dan karya Ugo Untoro (1989-2006) yang ditulis Omi Intan Naomi, Legacy of Sagacity (2008) ditulis oleh Jim Supangkat mengenai kekaryaan Putu Sutawijaya, Basoeki Abdullah: Fakta dan Fiksi (2009), kumpulan tulisan yang dikoordinasi oleh Mikke Susanto, Amrus Natalsya dan Bumi Tarung (2008), Elegi Artistik, Tentang Nashar dan Lukisan-Lukisannya yang diedit oleh Agus Dermawan T (2009), Seni Rupa, Perubahan, dan Politik (2009) yang adalah kumpulan tulisan FX Harsono, Ruang Di Bawah Telinga (2009) oleh Afrizal Malna tentang Made Wianta, serta ada pula buku semacam mengarsipkan kekaryaan seni rupa perempuan di Indonesia, seperti Indonesian Women Artist – The Curtain Opens (2007) oleh Farah Wardani, Wulan Dirgantara, serta buku koleksi karya seni bertema Ibu dan Anak dari Eddy Katimansyah, dan yang sudah agak lama, Exploring Modern Indonesian Art: The Collection of Dr Oei Hong Djien (terbit Maret 2004) oleh Helena Spanjaard. Di samping itu, ada pula buku untuk kalangan terbatas yang memaparkan kolektor-kolektor berpengaruh indonesia, Odyssey: A Private Journey Through Indonesia’s Most Renowed Fine Art Collectors (terbitan Singapura, 2008). Ada juga penelitian Grace Samboh yang bekerjasama dengan Galeri Sika, Bali, dibukukan berjudul Mapping Contemporary Visual Art Spaces in Bali (Pemetaan Ruang Seni Rupa Kontemporer di Bali), 2008 mengenai galeri seni rupa kontemporer di bali, yang sayangnya, kurang eksploratif. Selain penerbitan buku-buku, beberapa pameran yang sudah mengangkat tema arsip ini seperti pameran tunggal Syahrizal Pahlevi, Seni Rupa Arsip, IMRSM 2003-2005 (Juli 2009), pameran tunggal FX Harsono, The Erased Time (2009) yang menampilkan dokumentasi hasil penelitiannya mengenai kaum Tionghoa di Blitar, Pameran Arsip Sanggar Bumi Tarung pada 2008, sampai pameran arsip IVAA yang sekarang diadakan di Gedung Bank Indonesia dalam rangkaian biennale X. Yang agak berbeda tampilan dan konsep walaupun masih sama, yaitu bertema arsip adalah pameran “Grafis Melawan Lupa: Pameran Media Kampanye Masyarakat Sipil Tentang Pelanggaran HAM Masa Lalu” yang diselenggarakan oleh Kontras, Elsam, ISSI (Institut Sejarah Sosial Indonesia), Grafis Sosial, dan DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), Juli 2009 lalu. Beberapa pameran tersbebut mengangkat arsip sebagai bagian penting dari kegiatan berkesenian, dan karya seni, pada akhirnya adalah bagian dari arsip sejarah. Sepertinya mereka, baik seniman maupun penulis seni rupa, sudah mulai menyadari pentingnya penelitian dalam karya seni rupa, dan dokumentasi sejarah demikian adalah pendukungnya. Di balik kebutuhan seniman akan arsip, bisa dikatakan juga medan seni rupa kita seperti sedang berlomba-lomba meng-upgrade wacana seni rupa. Melalui dokumentasi atas karya, pembacaan atas karya, penulisan kembali, dan sebagainya, terlihat kesadaran akan pentingnya arsip seni rupa. Penelitian akan arsip ini juga sudah disadari berguna untuk memperkaya konsep atau ide dasar di balik sebuah karya seni. Setelah pasar, beberapa pihak di medan seni rupa kita agaknya sibuk meng-upgrade wacana, entah untuk menjelaskan fenomen pasar, entah untuk bereaksi terhadapnya. Apakah dengan tema arsip ini, seni rupa dan karya seni kita mau “ditingkatkan” agar bisa terlihat lebih “cerdas” sehingga praktik pasar seni rupa yang ramai itu mendapat legitimasinya? Dan biennale kali ini pun menghadirkan diskusi dan workshop demi kepentingan pengarsipan itu. Agak disayangkan bahwa ternyata dari tahun ke tahun, pembicara atau pihak yang dianggap kompeten ternyata hanya segelintir orang yang wajahnya dari tahun ke tahun selalu muncul untuk memberi kekuatan akademis dalam penyelenggaraan biennale. Arsip: Belajar Berkarya dari, di (dan untuk) Ruang Publik Tema biennale X kali ini menarik, terutama lewat kehadiran Public on the Move di mana sekitar 200 seniman bekerja sambil berusaha memahami seni rupa secara baru, mendamaikan antara “seni untuk seni’ dan “seni untuk masyarakat.” Seni di sini disadari keberadaannya menyatu dengan denyut kehidupan masyarakatnya. Seni dilahirkan dalam dan lewat masyarakat. Maka, dalam Public on the Move, seniman dan masyarakat bersama-sama berkarya, melahirkan sesuatu yang tidak dibuat-buat, melainkan hasil dari kegelisahan dan ritme hidup mereka di kota Jogja. Walau beberapa karya kadangkala nampak “ditempel,” diletakkan begitu saja di ruang publik kota, tapi dengan begitulah seniman memulai. Dan ini adalah sebuah permulaan yang baik untuk memahami keberadaan seni di ruang publik. Melalui Public on the Move, mereka mengeksplorasi mengenai cara berinteraksi dengan ruang sosial, yang tidak hanya terbatas pada masyarakatnya, melainkan denyut keseluruhan konteks kota. Dengan kata lain, pemahaman mengenai “interaksi” ini diperluas: tidak hanya melalui dialog dengan orang, melainkan juga dengan denyut kehidupan jalanan itu sendiri, misalnya, denyut keriuhan pasar Beringharjo, polusi dan kebisingan perempatan Gondomanan, Malioboro, Lempuyangan, dan sebagainya, yang masing-masing memiliki ciri khas: stasiun, pasar, perempatan, parkiran wisata, obyek wisata, situs sejarah yang hampir dilupakan, dan sebagainya. Hasilnya, mereka menciptakan patung atau instalasi yang diharapkan bisa merekam denyut kehidupan kota. Salah satu contoh, kotak minuman berlogo dan berwarna Coca-Cola yang tulisannya tidak lagi Coca-Cola, melainkan es dawet. Karya itu ditempatkan di perempatan lampu merah Gondomanan, melekat dan membungkus tiang lampu lalu lintas. Nampak bahwa karya dari komunitas Rumah Seni Jogja (RSJ) tersebut cukup bisa dinikmati oleh masyarakat yang sedang menunggu lampu berganti hijau. Demikianlah kotak es dawet raksasa itu hadir untuk menyapa dan mengajak pengguna jalan “berdialog” sejenak. Maka, di sini interaksi tidak sebatas berkomunikasi dan bercerita dengan tukang becak atau tukang stempel tentang kehidupan dan masalah keseharian mereka, melainkan harus bisa menangkap dan melakukan “pencatatatan” terhadap lalu lalang orang yang mampir ke tempat stempel, kesibukan pembuat stempel, percakapan para tukang becak di parkiran becak, dan semacamnya. Demikian juga akhirnya seniman akan mampu menangkap “suara-suara” di balik laju kendaraan, sliweran bus trans Jogja, keramaian Jathilan, keriuhan parkiran di alun-alun saat sekatenan, dan sebagainya. Dengan kata lain, atmosfer Jogja di sebuah tempat dan momen tertentu harus bisa ditangkap untuk menjadi nafas dalam berkarya di ruang publik dan untuk ruang publik. Tema biennale X kali ini, kalau mau dipahami melalui semangat Public on the Move, sebenarnya adalah ruang belajar memahami bagaimana berkarya dari, di (dan untuk) ruang publik. Arsip: Gerakan Belajar Mengarsip Mengamati temanya, esensi biennale kali ini adalah berdiam sejenak, refleksi sesaat mengenai kesejarahan seni rupa jogja. Apa yang sudah terjadi? Apa yang sudah dan sedang dilakukan para seniman sejak 1940-an? Refleksi ini menghasilkan lima kategori yang dikatakan para kurator adalah “semangat jaman.” Kategori tersebut sebenarnya harus dielaborasi lebih lanjut oleh para kurator karena agaknya pembacaannya tidak memadai untuk bisa dikaitkan dengan karya yang pada kenyataannya jauh lebih cair daripada lima hal yang sudah dibuat itu. Tidak bisa dipungkiri bahwa karya itu bisa terinspirasi dari gagasan kuratorial tersebut, namun juga tidak bisa dielakkan bahwa pembagian atau kategorisasi itu kurang memadai untuk menjelaskan karya itu. Menilik karya-karya yang sudah hadir, apakah nanti, dalam katalog post event, akan ada catatan lain dari para kurator, semacam pembongkaran dan pendalaman mengenai humanisme kerakyatan, humanisme universal, pendobrakan terhadap kemapanan estetika, pergolakan budaya lokal dan global, dan seni rupa urban? Itu mungkin salah satu cara bagaimana praktik kuratorial bisa dielaborasi lagi. Kalau itu bisa terjadi, maka arsip akan bisa dimaknai juga sebagai gerakan belajar mencatat bagi para kurator dan penulis seni rupa. Sejarah harus tidak dipahami sebagai sejarah yang monumental bagi seni rupa kita, melainkan kritis, selalu dibongkar dan dihasilkan kembali. Maka, semoga bukan hanya hiruk pikuk karena senimannya kreatif berkarya, kemunculan banyak karya eksperimental, peserta yang ikut bertambah, ramainya karya yang hadir di ruang publik, pengunjung yang meningkat jumlahnya, ataupun hiruk pikuk pasar yang berarti ada pembeli, melainkan satu hal yang harus ditambahkan, yaitu kemungkinan, keberanian dan kejujuran untuk menulis, mencatat kembali seni rupa Yogyakarta dengan perspektif dan semangat yang baru.

Tubuh Sebelum Tafsir

Ada tiga sosok dominan yang muncul berulang dalam video karya Filippo Sciascia: laki-laki dewasa dengan posisi menyamping, perempuan dewasa dengan posisi membelakangi penonton, dan seekor rusa yang shot dominannya diambil dari atas agak menyamping. Laki-laki itu sedang menuju ke sesuatu semacam bangunan rumah, rangka rumah yang di dalamnya ada lampu neon menyilaukan. Rusa itu berkelana dalam gelap, di sekitarnya ada ranting-ranting yang serupa tanduknya. Perempuan itu seperti sedang berusaha menembus dedaunan dan pepohonan, mencari-cari, meraba-raba jalan dengan sikap tangan seperti ingin menggapai sesuatu di depannya. Video itu memiliki dua layar yang keduanya diletakkan di pojok (siku) ruang sehingga kedua layarnya “bersambung” pada garis ruang. Pada masing-masing layar, secara bersamaan, muncul gambar berbeda dengan dengan tokoh, warna, dan latar belakang sama. Dengan warna dominan hitam-putih, keabuan, kehijauan, kadang kebiruan, editing nonlinear, dan lambatnya shot-shot itu, kesan misterius muncul dalam seluruh video berdurasi sekitar 3:35 menit itu. Video itu berjudul Lux Lumina (2010). Di sebelahnya, ada karya lain, Manifesto (2010). Manifesto dibentuk dengan media campuran, masing-masing semacam negatif-negatif film yang berisi beberapa gambar: organ mata, retina, gelombang cahaya, otak manusia, dan semacamnya. Keduanya memiliki nuansa sama, namun muatannya berbeda. Kalau Manifesto nampak seperti sebuah “studi ilmiah” tentang organ mata, Lux Lumina kebalikannya. Video itu terkesan mencoba berkomunikasi lebih intim, mengajak kita mengalami cahaya, merasakan cahaya: kita melihat melalui cahaya dan bersama dengan cahaya. Kalau bukan nyata, agaknya, rangka berbentuk rumah menyilaukan dalam Lux Lumina bisa dipersepsi mata sebagai implicated line (garis imajiner, kontur) yang dihasilkan dari perjumpaan antara wilayah berneon dan wilayah tanpa neon. Garis imajiner ini pula yang agaknya, hadir dalam dua instalasi ‘tenda dom’nya, Domus Completus (2010) dan Domus Incipit (2010). Dalam Freedom and Nature: The Voluntary and the Involuntary (1966), Paul Ricoeur menegaskan “I sense myself alive before I know myself as animal.” Ungkapan itu bisa dijelaskan kira-kira demikian: sebelum rasio saya dapat menjelaskan hidup saya, saya sudah lebih dulu merasakannya. Tubuh ada sebelum tafsir. Dalam kaitannya dengan “cahaya,” bisa dikatakan juga, “Saya merasakan tubuh saya hidup dengan, dan bersama cahaya sebelum saya tahu bahwa saya memiliki organ penglihatan, mata, yang lewat retinanya, bisa menangkap gelombang cahaya dan mengatakan segala sesuatu tentang yang saya lihat.” Kata-kata itu agaknya yang bisa menjelaskan relasi antara Lux Lumina dan Manifesto, dua karya Sciascia yang hadir menemani, antara lain Lumen Unicus (2010), dan Lumen Praecipuus (2010), karya lukis yang masih menggunakan teknik khasnya, retak-retak dengan cat minyak dan gesso tebal. Lewat cahaya, pantulan, dan bayangan, pengalaman akan batas, ilusi, persepsi dan imajinasi ini yang mungkin bisa kita eksplorasi dalam karya kolaborasi Agus Suwage dan Filippo Sciascia di bawah tajuk besar pameran “Illuminance.” Pameran ini diselenggarakan oleh Langgeng Art Foundation, Yogyakarta, 29 Januari sampai dengan 11 Maret 2011, setelah sebelumnya di NUS Museum, Singapura. Eksplorasi atas tafsir, batas, dan faktisitas manusia ini diungkapkan dengan lebih “nekat” oleh Suwage. Selain patahan rangka-rangka grafit yang bertumpuk di sudut ruang, dengan lima gagak emas di atasnya, Circle of Hope (2010), ada lagi tengkorak raksasa yang lebih profokatif: An Offering to Ego (2007). Karya ini, karena pose menyampingnya, dan dalam katalog pameran difoto di pasir pantai berlatar laut, mengingatkan kita pada Collective Invention (1934), karya Magritte. Pada beberapa bagian rangka raksasa itu terdapat beberapa kata, seakan mempertanyakan kembali fungsi dan kekuatan kata untuk “menamai,” memberi cap, mengingat pikiran kita pun memiliki kekuatan asosiatif dan imajinatif. Beberapa kata merujuk pada bendanya, namun beberapa yang lain sama sekali tidak berkaitan dengan bendanya, antara lain “Dream” pada tengkorak kepala bagian atas agak ke depan, “Money power” dan “Politic” pada rangka bahu belakang, dan “Column” pada tulang belakang. “An offering” diletakkan di bagian paha yang separuhnya seperti terbenam. Mungkin, kita bisa bertanya lebih jauh, apa yang sedang ‘dirayakan’ di sana? Kematian kata? Kematian saya? Kematian “saya ‘ego’ yang adalah tafsir?” Atau gambaran “ego” yang sedang “bertransaksi” dengan keniscayaannya, eros dan thanatos? Selain ‘permainan’ teks dan image, penemuan efek sephia natural dari jus tembakau (tobacco juice) yang menemani efek transparan cat air pada Eros Kai Thanatos #2 (2010) menimbulkan sensasi tersendiri. Sekitar 40 buah kertas disusun berjajar. Masing-masing berisi rangka: tengkorak kepala, kaki, jari-jari tangan, rongga dada, panggul, dan sebagainya dengan beberapa posisi tampakan. Di sela-sela kertas berisi rangka itu hadirlah bunga teratai, frangipani, mawar, dan sebagainya yang seakan ‘menjadi bagian tak terpisahkan’ dengan tengkorak-tengkorak yang nampak bak artefak kematian itu. Efek warna, bau, dan kontur yang terbentuk hasil perjumpaan antara jus tembakau dengan kertas telah melahirkan depth, line, dan space khas Suwage, seperti juga retak-retak khas Filippo. Daya eksperimentasi keduanya agaknya berhasil menggeser kedudukan elemen-elemen seni rupa seperti cahaya, kedalaman (depth), garis (line), dan ruang (space) yang awalnya dirumuskan dengan sangat ketat-akademis, menjadi lebih “intim” dengan pengalaman. Elemen itu tak lagi sengaja dibentuk dan direncanakan, melainkan lahir dengan sendirinya, penuh ekspresi dan spontanitas. Maka, hasilnya, bukan tafsir atas ruang, melainkan pengalaman akan ruang: dalam-luar, juga pengalaman akan jarak: jauh-dekat, dan sebagainya. Dalam Eye and Mind (1964), Merleau-Ponty mengatakan “It is not enough to think in order to see.” Kata-kata ini ditujukan untuk ‘mematahkan argumen’ rasionalisme Descartes, dan ‘membela’ pengalaman inderawi (the sensible) yang pada masa pencerahan diletakkan di bawah ilmu pengetahuan dan pikiran. Maka, mengkritik Descartes yang menganggap bahwa rasio adalah satu-satunya “pusat” dari keberadaan manusia, dan tubuh hanya ‘perpanjangan’ dari pikiran, Ponty menekankan kesatuan dari pengalaman inderawi (tubuh, body) dan pikiran (rasio, mind) manusia. Karena itu, seni tak lagi bisa dikatakan sekadar perihal gagasan.

Monolog Kelahiran Figur Baja Putu

Sejumlah sosok tanpa wajah, terbuat dari baja dan kawat seperti sedang melakukan gerak-gerak akrobatik. Mereka seperti sedang terbawa keasyikannya masing-masing. Ada yang seperti menari, melompat, melayang, memanjat, melepaskan diri, merunduk, menghardik, bergantungan, berlari, dan sebagainya. Bak permain akrobat, masing-masing bergerak dengan sebagian tubuh bertumpu pada sesuatu, semacam bidang, palang, tiang, rantai, dan gulungan kawat. Itulah karya tiga dimensi Putu Sutawijaya (39). Seniman yang pernah memenangkan Lukisan Terbaik Philip Morris Art Award 1999 ini berpameran tunggal dengan tajuk Gesticulation, berlangsung di Sangkring Art Space, 20 Februari – 10 Maret 2010. Semua karyanya kali ini adalah karya tiga dimensi dengan fokus pada “gestur” (gerak tubuh). Putu mengolah, terutama, gerak-gerak ekspresif, spontan, dan tanpa nama dari tubuh. Gerak ini dihadirkannya lewat figur yang secara anatomis laki-laki, tak berwajah, tak bernama, dan berambut panjang lepas terurai yang arahnya tak selalu sama dengan geraknya. Ada yang menarik pada pameran kali ini, yaitu bahwa Putu menghadirkan sosok-sosok bajanya bersama dengan “yang bukan sosok manusia,” yaitu besi melintang, gulungan kawat dan besi, lempengan bergerigi, rantai, dan sebagainya – yang meski berbeda dan terpisah dengan sosok itu, namun keberadaannya nampak ‘menyatu’ dengan gerak si figur. Lempengan besi, gulungan kawat dan sebagainya itu (elemen “nonfigur”) nampaknya tak hanya berfungsi sebagai penyangga yang membuat figur nampak sebagai “patung.” Agaknya, elemen ini juga bukan asesori atau sekadar ‘tambatan,’ ‘bingkai,’ atau “tumpuan imajiner” bagi keberadaan figur atau sosok baja itu. Figur, atau gerak figur, meskipun tampak tak ada kaitannya dengan penampang yang menyentuhnya itu, namun “dilahirkan” juga dari penampang itu. Pendek kata, Putu, agaknya, “mengunci” figur pada “penampang,” tumpuannya itu untuk memperkuat karakter gerak figur. Lihat, misalnya Gesticulation #7, figur tampak condong ke depan, dengan dada membusung, dua tangannya seperti sedang menepis penyangganya (besi setengah lingkaran, ujung tak beraturan, bak bulan sabit). Ia seperti “lahir kembali,” geraknya dilahirkan dari sikap “menidak,” atau “mengelak” penyangganya. Hal ini juga nampak dalam Gesticulation #6. Figur seperti sedang berlari keluar dari lubang. Ia belum sepenuhnya keluar, sebagian kakinya yang dalam posisi bak sedang berlari keluar, masih tertinggal. Tangan kirinya seperti ‘menepis’ lempeng berlubang itu, sedang tangan kanannya setengah terbuka, di telapaknya ada setangkai bunga. Sang makhluk tak berwajah sedang mengarahkan pandangannya ke bunga itu. Agaknya, di sini, figur butuh “yang lain” (‘nonfigur’) yang bisa diimajinasikan, atau “diilusikan” sebagai “penahan,” “tumpuan imajiner” agar kebebasan ekspresi gerak itu bisa dialami. Pendek kata, pengalaman atas kebebasan mau tak mau diikuti oleh pengalaman atas ketidakbebasan. Dan penyangga, mungkin, sebuah “sarana,” atau “titik pijak” yang berfungsi sebagai “penahan” sekaligus “pendorong” kelahiran gerak bebas figur. Paradoks ini, mungkin, lahir dari pengalaman Putu, yang diungkap oleh Karim Raslan, sebagai tegangan antara “kebebasan personal dan identitas komunal.” Karakter gerak bebas figur agaknya muncul saat figur tak terikat lagi pada penampang. Dengan kata lain, mereka (figur) memang terikat pada penampang, namun pada saat yang bersamaan mereka pun berhasil menjadikan penampang itu tak lagi penghambat, melainkan “alat bermain.” Kondisi ini bisa dilihat pada, salah satunya, Gesticulation #1. Di sana figur tampak dengan santainya menjadikan “penampang” itu medium untuk “berpose.” Nampak di sana ada “komunikasi” antara sosok baja dengan penampangnya, bukan dengan sesama figur. Karena itu, figur-figur Putu tampak seperti sedang bermonolog. Mereka hadir bersama, namun sendiri. Mereka nampak seperti sedang bermain – bukan dengan sosok lain yang ada bersamanya, melainkan dengan dirinya sendiri. Gesticulation #15, misalnya, dua figur dengan pose berbeda terlihat sedang bermain menarik gulungan kawat, seorang di satu sudut, seorang lagi di sudut yang lain. Dengan gerak berbeda, masing-masing seperti sedang menikmati “ritme” hidupnya sendiri. Mereka bersama dalam kediaman dan kesendiriannya masing-masing.

Gerilya di Atas Kanvas Stefan

Senapan laras panjang, topi baja, sepatu tentara, pisau lipat, barikade, macan, singa, paku, steples, lempengan besi berkarat, hadir di depan kita. Mereka semua adalah gambar yang membangkitkan ingatan kita akan era Orde Baru yang sarat demonstrasi berbagai kelompok, kekerasan, pemerkosaan, pembunuhan, penculikan, dan berbagai aksi kekerasan lain yang cenderung dilakukan oleh pihak yang memiliki otoritas pada pihak yang tanpa otoritas. Benda-benda itulah yang menjadi obyek utama di kanvas Stefan Buana (40) dalam pameran tunggalnya, Mental Gerilya, 16 Maret – 18 April 2010 di Tembi Contemporary, Jl Parangtritis km 8,5 Yogyakarta. Zaman Orde Baru yang sarat isu militerisme, birokratisasi, dan reformasi itu nampaknya lekat dalam diri Stefan, yang notabene adalah anak tentara. Oleh Stefan, realitas politik Orba itu juga dikaitkan dengan perjuangan pra kemerdekaan dan masa sekarang. Maka, ada Negeri Orang-Orang Bermental Gerilya (2010). Di sana tergambar wajah-wajah garis hitam yang tercipta dari gun tack. Di sana, tepian garis yang tercipta dari gun-tack itu nampak ‘luber’ sehingga ada efek garis bergerigi, kasar, seperti goresan-goresan luka, atau jahitan luka. Demikian juga wajah-wajah dengan karakter berbeda, seperti menggambarkan keberagaman profesi, suku bangsa, agama, warna kulit, dan sebagainya – agaknya, walau bukan tema baru, namun penyampaian melalui gaya “karikatural-naif” bak lukisan anak-anak itu, pengolahan medium dan warna pada karya ini, cukup menarik. Ada juga Militan (2010). Gambar wajah dengan kerut di dahi, masih dengan gun-tack, wajah itu simpel, monokrom, cenderung abu-abu. Di sebelah wajah itu ada senapan. Bak foto seorang pejuang yang sudah ‘menampung’ penat kehidupan, Stefan, lewat wajah itu, agaknya ingin menampilkan apa yang dinamakannya ‘heroisme,’ dan apa yang disebutnya sebagai “mental gerilya” itu. Militan seakan mengajak kita untuk peka terhadap ‘dialektika’ kehidupan yang terjadi dalam masyarakat. Obyek hewan, agaknya juga menjadi inspirasi dan karakter karya Stefan. Kengerian, kekerasan, teror, hasrat survival, dan kekuatan masyarakat untuk bertahan hidup ini disimbolkan juga dengan macan, singa dan kuda. Maka, ada wajah macan dengan tembakan merah yang ‘menimpa’ tekstur semacam lipatan kain (Kamuflase Sang Penguasa), sehingga wajah macan tampak bervolume karena terbangun di atas tekstur semu pada lapisan sebelum gambar macan itu. Ada juga Saatnya Menggambar Macan dan Singa (2010). Teknik dan medium agaknya menjadi salah satu kekuatan Stefan. Ia tak melukis seperti biasanya dengan akrilik atau cat minyak di atas kanvas. Stefan seakan ‘menyapu’ kanvasnya dengan apa saja demi mengungkapkan idenya. Agaknya, medium semacam paku, arang, serbuk kayu, steples, besi berkarat, benang, dan sebagainya itu yang dibiarkannya berbicara mengenai kekerasan, bahkan, mungkin lebih profokatif daripada obyek yang digambarkan. Teknik Stefan pun beragam, dari menggambar, sampai merobek, memaku dan melubangi kanvas. Lihat, Antara Karawang dan Bekasi (2010) yang berisi sekumpulan paku tak beraturan di hamparan steples, juga New War Area (2010), gambar lapangan sepakbola yang seluruh permukaan rumputnya terbentuk dari paku (tekstur nyata). Lapangan itu seakan menjadi sebuah simbol “pertandingan” hidup dan mati, sebuah perjuangan yang identik dengan luka dan darah. Maka, bagi Stefan, dan mungkin bagi kita semua, tema ini masih relevan, dan akan selalu relevan, terlebih bila dikaitkan dengan kondisi sekarang, melambungnya harga, juga kekerasan misterius yang baru-baru ini terjadi, yaitu kiriman paket buku berisi bom di hari yang sama pada aktivis JIL Ulil Abshar Abdalla di Utan Kayu, 68H, Kepala Pelaksana Harian BNN Komjen Pol Gorries Mere di Kantor Badan Narkotika Nasional, dan rumah Yapto S, ketua umum Pemuda Pancasila. Di sini, “Mental Gerilya” nampaknya, telah menjadi idiom bagi Stefan untuk berbicara tentang nilai-nilai perjuangan yang tak hanya terbatas pada perjuangan kemerdekaan atau reformasi politik, dan kepahlawanan tak hanya bernuansa perjuangan fisik. Kini, “gerilya,” di tangan Stefan mungkin bisa menjadi teropong kita untuk lebih peka terhadap perjuangan masyarakat untuk bertahan hidup.